Wednesday, 12 December 2012

TWEEKLY # 10 " Dongeng Ayah"

DONGENG AYAH


“Pluk” kulihat orang itu membuang sampah di kali. “Papa,” kataku. “Mengapa kita tidak boleh membuang sampah di kali?” “Anakku akan kuceritakan sesuatu padamu .” “Dahulu kala,” ayah memulai “di sebuah desa bernama desa Kotor, hiduplah Tong dan Sampah bersaudara.” “Di desa itu pula terdapat sungai Sobek yang indah… dulunya. Tetapi sungai itu sering banjir,” “Nah, Tong dan Sampah ingin mengetahui mengapa, mereka lalu mendirikan pos jaga di delta sungai. Tiap malam Tong dengan setia memobservasi sungai itu, dan tiap siang hari Sampah menunggu dengan setia. Akhirnya setelah 2 tahun memobservasi mereka dapat menyimpulkan bahwa, sampah yang dibuang oleh penduduk desa Kotor telah memblokir arus sungai dan membuat semacam bendungan. Setelah beberapa waktu bendungan itu pun tidak sanggup lagi menampung air itu dan akhirnya keluar dari bendungan sampah tersebut, alhasil air itu keluar dan menyebabkan banjir dan akhirnya longsor.





Informasi ini segera dilaporkan oleh Tong dan Sampah kepada penduduk desa Kotor. Di luar dugaan ternyata penduduk desa kotor mau menerima laporan dari bersaudara Tong dan Sampah. Setelah 2 hari saja bersaudara Tong dan Sampah mulai melihat perubahan yang sangat signifikan, yaitu bahwa penduduk desa Kotor tidak lagi membuang sampah di sungai Sobek melainkan di belakang rumah mereka. ‘Nah begitulah seharusnya’ kata Tong kepada Sampah dengan bangga.





Tetapi ternyata kebahagiaan bersaudara Tong dan Sampah tidak bertahan lama. Setelah beberapa minggu penduduk desa Kotor mulai mengeluhkan bahwa sampah yang sekarang mereka kumpulkan di belakang rumah mereka mulai mngeluarkan bau yang kurang sedap. Kembali para penduduk desa Kotor membuang sampah di sungai.





Bersaudara Tong dan Sampah pun menjadi sedih, mereka mencoba menghibur diri mereka dengan menonton pertandingan sepak bola. Kebetulan tim favorit mereka yang bermain yaitu Tim Rajawali. Setelah lima menit Tim Rajawali mencetak gol. Tiba- tiba ‘Aha!’ `kata Tong ‘Aku punya ide.’ Ternyata ide Tong adalah untuk membuat tong sampah dari jarring- jarring. Ia mendapat ilham karena ketika Tim Rajawali mecetak gol, jarring- jarring dalam gawang dapat menahan bola agar bola itu tidak pergi melayang kepada para penonton. ‘Ide bagus itu , Tong!’ kata Sampah.





Mereka lalu pergi ke pasar untuk membeli tali sepanjang 10m.’ Untuk apa kau membeli tali sebanyak itu Tong?’tanya para penduduk desa.’ Untuk membuat tempat penampungan sampah,’ kata Tong dengan mata berbinar- binary karena senang telah menemukan gagasan. ‘Hahaha kau sedang bergurau ya?’ Tanya para penduduk desa,





Tetapi Tong dan Sampah tidak mendengar mereka karena mereka telah berlari menuju rumah mereka untuk memulai membuat tempat penampungan sampah pertama di dunia. Bertahun- tahun mereka merantau mencoba untuk belajar bagaimana caranya untuk mengikat ismpul yang benar agar dapat mengubah wujud tali menjadi jaring- jaring. Berkali- kali mereka mencoba dan berkali- kali juga mereka gagal, tetapi mereka tidak pernah lelah ataupun bosan, karena mereka rela melakukan semua ini demi desa mereka yang tercinta. Akhirnya mereka berhasil membuat jarring- jarring yang kuat dan bagus kualitasnya. Namun mereka tetap belum tahu bagaimana caranya agar dapat membuat kerangka kayu yang bagus. Lagi- lagi mereka kembali, merantau, pergi ke tempat seluruh pekerja layu terbaik berada.





Mereka kembali mencoba, belajar dan gagal. Tetapi mereka tidak pernah patah semangat karena mereka telah bersikukuh bahwa mereka akan mengabdi kepada desa tempat mereka dilahirkan. Mereka telah berbulat tekad untuk mengubah nama desa Kotor menjadi desa Bersih.





Akhirnya mereka berhasil, dengan bangga mereka bekerja keras untuk menggabungkan kerangka kayu mereka dengan jaring- jaring. Setelah tempat penampungan sampah itu dibuat mereka dengan bangga mempresentasikan hasil jerih payah mereka selama bertahun- tahun. Penduduk desa Kotor melihat dengan kagum, lupa bahwa mereka dulu mengolok- olok gagasan tersebut.





‘Wow apa itu?’ Tanya para penduduk desa dengan kagum. ‘Oh ini, ini adalah tempat penampungan sampah, setiap keluarga akan mendapatkan satu’ jawab Sampah dengan bersemangat. ‘Kami sudah memberikan semua tempat ini kepada pak kepala desa, silahkan diambil ya!’ kata Tong menjelaskan lebih lanjut. ‘Oh begitu! Yuk kita ke rumah pak kepala desa!’ Seru para penduduk desa. Alangkah senagnya Tong dan Sampah hasil kerja mereka ternyata tidak sia- sia.





Satu minggu berlalu dan tampaknya semua penduduk bahagia. Mereka bahkan sepakat untuk bergotong- royong guna membersihkan sampah dari sungai. Terlihat dengan jelas bahwa sungai Sobek tidak lagi berwarna coklah melainkan biru jernoh. ‘Aku bangga kepada desa ini Tong, karena mereka tekami ternyata mau menerima gagasan kami dengan tangan yang terbuka,’ kata Sampah. ‘Aku juga turut senang karena ternyata hasil kerja kita selama 5 tahun belakangan ini tidak sia- sia.





Dua minggu berlalu ketika tiba- tiba sekelompok penduduk desa datang ke rumah Tong dan Sampah. Mereka membawa tempat penampungan sampah mereka. ‘Apa- apaan ini?’ Tanya Tong bingung. ‘Barang ini tidak berguna sama sekali tidak berguna!’ kata penduduk desa marah, merekapun kemudian membuang tempat sampah mereka lalu membakarnya. ’Kenapa kalian melakukan ini? Tak tahukah kalian bahwa kami menghabiskan 5 tahun penuh untuk belajar membuat ini!’ Kata Sampah dengan nada frustasi. ‘Jaring- jaring dalam tempat sampah ini terlalu besar lubangnya, sehingga sampah- sampah kecil tidak dapat ditampung!’ Jawab penduduk desa.’Tetapi ini adalah jaring- jaring terkecil yang bisa dibuat.’ Bantah Tong. ‘Kalau begitu kami tidak mau memakai tempat sampah rongsokan ini!’ Jawab para penduduk desa dengan marah. Seketika itu juga hancurlah impian Tong dan Sampah, semua yang mereka lakukan ternyata sia- sia.





Satu minggu kemudian semua penduduk desa Kotor membuang tempat sampah mereka karena mengalami peristiwa yang sama dengan kelompok penduduk desa yang membakar tempat sampah mereka. Tong dan Sampah pun merana karena merasa bahwa mereka tidak dapat mengkontribusikan apa- apa kepada desa mereka.





Berminggu- minggu Tong dan Sampah mengasingkan diri, mereka tidak mau menemui siapapun. Penduduk desa akhirna merasa bersalah, merekapun pergi bersama-sama ke rumah Tong dan Sampah, betapa terkejutnya mereka ketika menemukan bahwa mereka berdua ternyata jatuh sakit. Karena terlalu sedi Tong dan Sampah sampai tidak makan, mereka merasa begitu sedih karena dihinggapi rasa bahwa mereka telah mengecewakan penduduk desa Kotor. Dengan cemas mereka mebawa Tong dan Sampah ke tabib Lin Yu yang terkenal.





Berminggu- minggu penduduk desa Kotor bergantian untuk menunggui Tong dan Sampah. Tiap hari mereka membawakan selimut, handuk, bunga, dan berbagai macam barang lagi. Akhirnya Tong dan Sampah pun siuman. ‘Syukurlah!’ kata pa kepala desa’ kami semua merasa kasihan terhadap kalian. ‘Kalian tidak perlu merasa kasihan terhadap kami,’ kata Tong. Ternyata setelah Tong dan Sampah siuman penduduk desa tetap dengan setia menjenguk Tong dan Sampah.





Setelah beberapa hari mereka berdua diperbolehkan untuk pulang. Tetapi sebelum itu tabib Lin Yu menumbuk obat yang tetap diharuskan untuk diminum oleh Tong dan Sampah. ‘Aha!’ kata Sampah ‘Aku dapat ide, lihat itu serbuk obat tetap didalam mangkok. Kita dapat membuat tempat sampah berbentuk mangkok raksasa.’ ‘O ide cemerlang!’ kata Tong sambil berjingkat- jingkat.’ Hei turun, duduklah kalian belum sembuh total!’ kata Tabib Lin Yu’ Kalian berdua duduk!’ Sedikit malu Tong dan Sampah kembali duduk. ‘Belum juga semuh, udah nari- nari. Boro- boro sembuh duduk diam saja tidak bias!’ kata tabib Lin Yu memaki- maki mereka berdua. Ketika tabib Lin Yu telah selesai menumbuk obat dan memberikanya kepada Tong dan Sampah mereka pun segera pergi, tidak lupa untuk berterima kasih kepada tabib Lin Yu.





Tong dan Sampah ternyata segera pulang dan mengambil gergaji lalu berangkat menuju hutan. Ternyata mereka berdua hendak memotong kayu. Seorang tukan kayu dari desa melihat mereka dan merasa iba.’ Kalian tidak usah memotong kayu, biar saya saja . Kalian pulang saja dan beristirahat.’ Kat sang tukang kayu. ‘Oh terima kasih,’ kata Sampah kepada sang tukan kayu .Mereka lalu pulang dengan hati yang senang.





Keesokan harinya sang tukang kayu datang ke rumah Tong dan Sampah membawa potongan- potongan kayu. Tetapi kemudian tukang kayu itu pun berkata’ Saya tidak akan member potongan- potongan kayu ini jika Anda belum berjanji kepada say bahwa, sebelum And sembuh total anda tidak akan memegang kayu ini.’ Terpaksa Tong dan Sampah harus bersumpah kepada sang tukang kayu bahwa mere tidak akan mempergunakan kayu tersebut sebelum mereka telah sembuh dari penyakit yang kini mereka derita. Sialnya, sang tukang kayu bahkan berjanji bahwa dia akan menjenguk mereka. Dengan kesal Tong dan Sampah pun mendengus, mereka terpaksa harus mengurungkan niat mereka untuk memulai memahat tempat penampungan sampah dari kayu pertama di dunia.



Selama beberapa hari kedepan sang tukang kayu dengan setia menunggui mereka berdua, dan setiap heri Tong dan Sampah mendengus kesal karena satu hari yang seharusnya dipakai untuk membuat tempat sampah terbuang sia- sia. Setelah beberapa lama mereka pun sembuh, sehingga mereka dapat memulai pekerjaan mereka yang sudah lama tertunda.





Dengan senang Tong dan Sampah mengemasi pakaian mereka, ternyata mereka hendak berpergian lagi untuk mempelajari cara memahat tempat penampungan sampah tersebut. Mereka pergi ke berbagai kota, bahkan Negara- Negara lain.’ Oh senangnya hatiku, Sampah,’ kata Tong. ‘Akupun ikut senang, karena impian kita berdua untuk dapat mempersembahkan sesuatu kepada desa Kotor akan terwujud.’ Kata Sampahkegirangan.





Mereka naik kapal menuju ke berbagai Negara untuk menemui berbagai tukang pemahat kayu yang sangat terkenal. Mereka pun ,elalui masa yang tidak terasa asing bagi mereka, ya mereka melalui masa percobaan.





Masa dimana mereka harus berusaha dengan keras untuk mencapai keinginan mereka, dan juga masa dimana mereka dapat gagal dengan mudah. Bulir- bulir keringat berjatuhan dari dahi Sampah, ia merasa lelah, capek dan kepanasan. Demikian juga Tong, tetapi mereka telah bertekad untuk tidak menyerah sampai mereka telah berhasil.





Akhirnya mereka berhasil membuat tempat penampungan sampah berupa mangkuk kayu besar . ‘Nah, akhirnya selesai,’ kata Sampah sambil mengelap keringat dari dahinya. Kembali mereka menaiki kapal pulang kembali ke desa Kotor. Ketika mereka sampai di desa Kotor mereka segera menuju rumah mereka untuk beristirahat.





Keesokan harinya mereka bersiap- siap untuk mempresentasikan tempat penampungan sampah terbaru mereka, terngiang kembali memori ketika penduduk desa membakar tempat penampungan sampah jaring- jaring mereka, tetapi dengan cepat mereka dapat menghilangkan pikiran negative itu. ‘Kali ini pasti berhasil,’ kata Tong dengan percaya diri.





Meraka lalu mempresentasikan tempat sampah kayu tersebut dan membagi- bagikanya kepada para penduduk desa.’ Semuanya berjalan dengan lancar,’ kata Sampah. ‘Tak ada masalah,’ katanya lagi.





Beberapa minggu kemudian mereka sudah dapat melihat perubahanya, tak ada lagi sungai berwarna coklat dan tidak ada lagi bau tak sedap yang tercium dari desa Kotor, sampah nan dekil pun tidak lagi menghiasi jalanan di sea Kotor . Beberapa minggu lagi Tong dan Sampah mulai mendengar keluhan bahwa debu sering tertiup angin keluar dari tempat sampah karena tempat penampungan sampah tidak memiliki penutup. Tong dan Sampah lagi- lagi pergi ke hutan untuk memotong kayu dan dengan teknik yang telah mereka pelajari dalam perjalanan mereka kembali bekerja, memahat tutup untuk penampungan sampah mereka. Satu bulan, dua bulan, dan seterusnya berlalu akhirnya setelah satu tahun mereka telah membuat tutup tempat sampah yang bagus. Lagi- lagi mereka membagikanya kepada penduduk desa Kotor.



Berminggu- minggu berlalu tak ada masalah. Berbulan- bulan berlalu masih tak ada masalah. Akhirnya para penduduk desa datang ke rumah Tong dan Sampah, kali ini membawa kabar baik. ‘ Kami telah menyimpulkan bahwa tempat sampah buatan kalian telah memenuhi standar kami, oleh karena itu kami ingin berterima kasih,’ kata pak kepala desa. ‘Oh kami sungguh senang,’ kata Tong. Tak ada lagi yang dapat dikatakan Tong maupun Sampah, mereka begitu bahagia.





Akhirnya Tong dan Sampah dapat mempersembahkan sesuatu kepada desa mereka. Setelah tempat penampungan sampah sukses dibuat oleh Tong dan Sampah, banyak pujian diberikan kepada desa Kotor, baik itu atas kebersihan desa itu atau sungai desa itu yang biru jernih dan jarang banjir. Oleh karena itu, untuk menghormati hasil jerih payah mereka berdua, penduduk desa Kotor menamai tempat penampungan sampah itu dengan nama Tong Sampah.” Kata Ayah menyudahi ceritanya.





‘Oh aku mengerti sekarang ayah, kita tidak boleh membuang sampah di kali agar kali itu tidak sering banjir.’ Kataku mantap. ‘Betul itu anakku,’ kata ayah dengan nada bicara yang tenang. ‘Aku akan selalu membuang sampah di Tong Sampah.’ Kataku bahagia. ‘Waktunya tidur saying.’ Kata mama dari dapur. Akupun berlari ke kamarku siap untuk pergi tidur dan bangun keesokan harinya menyambut bumi yang lebih hijau.

Semoga kalian menyukai karya tulisan saya, maaf jika banyak kesalahan baik secara kata bahasa maupun moralnya, tolong tinggalkan komentar- komentar tentang cerita ini agar saya dapat menulis cerita- cerita yang lebih berkualitas.

No comments:

Post a Comment