DONGENG AYAH
“Pluk” kulihat orang itu membuang sampah di kali. “Papa,” kataku. “Mengapa
kita tidak boleh membuang sampah di kali?” “Anakku akan kuceritakan sesuatu
padamu .” “Dahulu kala,” ayah memulai “di sebuah desa bernama desa Kotor,
hiduplah Tong dan Sampah bersaudara.” “Di desa itu pula terdapat sungai Sobek
yang indah… dulunya. Tetapi sungai itu sering banjir,” “Nah, Tong dan Sampah
ingin mengetahui mengapa, mereka lalu mendirikan pos jaga di delta sungai. Tiap
malam Tong dengan setia memobservasi sungai itu, dan tiap siang hari Sampah
menunggu dengan setia. Akhirnya setelah 2 tahun memobservasi mereka dapat
menyimpulkan bahwa, sampah yang dibuang oleh penduduk desa Kotor telah
memblokir arus sungai dan membuat semacam bendungan. Setelah beberapa waktu
bendungan itu pun tidak sanggup lagi menampung air itu dan akhirnya keluar dari
bendungan sampah tersebut, alhasil air itu keluar dan menyebabkan banjir dan
akhirnya longsor.
Informasi ini segera dilaporkan oleh Tong dan Sampah kepada penduduk desa
Kotor. Di luar dugaan ternyata penduduk desa kotor mau menerima laporan dari
bersaudara Tong dan Sampah. Setelah 2 hari saja bersaudara Tong dan Sampah
mulai melihat perubahan yang sangat signifikan, yaitu bahwa penduduk desa Kotor
tidak lagi membuang sampah di sungai Sobek melainkan di belakang rumah mereka.
‘Nah begitulah seharusnya’ kata Tong kepada Sampah dengan bangga.
Tetapi ternyata kebahagiaan bersaudara Tong dan Sampah tidak bertahan lama.
Setelah beberapa minggu penduduk desa Kotor mulai mengeluhkan bahwa sampah yang
sekarang mereka kumpulkan di belakang rumah mereka mulai mngeluarkan bau yang
kurang sedap. Kembali para penduduk desa Kotor membuang sampah di sungai.
Bersaudara Tong dan Sampah pun menjadi sedih, mereka mencoba menghibur diri
mereka dengan menonton pertandingan sepak bola. Kebetulan tim favorit mereka
yang bermain yaitu Tim Rajawali. Setelah lima menit Tim Rajawali mencetak gol.
Tiba- tiba ‘Aha!’ `kata Tong ‘Aku punya ide.’ Ternyata ide Tong adalah untuk
membuat tong sampah dari jarring- jarring. Ia mendapat ilham karena ketika Tim
Rajawali mecetak gol, jarring- jarring dalam gawang dapat menahan bola agar
bola itu tidak pergi melayang kepada para penonton. ‘Ide bagus itu , Tong!’
kata Sampah.
Mereka lalu pergi ke pasar untuk membeli tali sepanjang 10m.’ Untuk apa kau
membeli tali sebanyak itu Tong?’tanya para penduduk desa.’ Untuk membuat tempat
penampungan sampah,’ kata Tong dengan mata berbinar- binary karena senang telah
menemukan gagasan. ‘Hahaha kau sedang bergurau ya?’ Tanya para penduduk desa,
Tetapi Tong dan Sampah tidak mendengar mereka karena mereka telah berlari
menuju rumah mereka untuk memulai membuat tempat penampungan sampah pertama di
dunia. Bertahun- tahun mereka merantau mencoba untuk belajar bagaimana caranya
untuk mengikat ismpul yang benar agar dapat mengubah wujud tali menjadi jaring-
jaring. Berkali- kali mereka mencoba dan berkali- kali juga mereka gagal,
tetapi mereka tidak pernah lelah ataupun bosan, karena mereka rela melakukan
semua ini demi desa mereka yang tercinta. Akhirnya mereka berhasil membuat
jarring- jarring yang kuat dan bagus kualitasnya. Namun mereka tetap belum tahu
bagaimana caranya agar dapat membuat kerangka kayu yang bagus. Lagi- lagi
mereka kembali, merantau, pergi ke tempat seluruh pekerja layu terbaik berada.
Mereka kembali mencoba, belajar dan gagal. Tetapi mereka tidak pernah patah
semangat karena mereka telah bersikukuh bahwa mereka akan mengabdi kepada desa
tempat mereka dilahirkan. Mereka telah berbulat tekad untuk mengubah nama desa
Kotor menjadi desa Bersih.
Akhirnya mereka berhasil, dengan bangga mereka bekerja keras untuk
menggabungkan kerangka kayu mereka dengan jaring- jaring. Setelah tempat
penampungan sampah itu dibuat mereka dengan bangga mempresentasikan hasil jerih
payah mereka selama bertahun- tahun. Penduduk desa Kotor melihat dengan kagum,
lupa bahwa mereka dulu mengolok- olok gagasan tersebut.
‘Wow apa itu?’ Tanya para penduduk desa dengan kagum. ‘Oh ini, ini adalah
tempat penampungan sampah, setiap keluarga akan mendapatkan satu’ jawab Sampah
dengan bersemangat. ‘Kami sudah memberikan semua tempat ini kepada pak kepala
desa, silahkan diambil ya!’ kata Tong menjelaskan lebih lanjut. ‘Oh begitu! Yuk
kita ke rumah pak kepala desa!’ Seru para penduduk desa. Alangkah senagnya Tong
dan Sampah hasil kerja mereka ternyata tidak sia- sia.
Satu minggu berlalu dan tampaknya semua penduduk bahagia. Mereka bahkan
sepakat untuk bergotong- royong guna membersihkan sampah dari sungai. Terlihat
dengan jelas bahwa sungai Sobek tidak lagi berwarna coklah melainkan biru
jernoh. ‘Aku bangga kepada desa ini Tong, karena mereka tekami ternyata mau
menerima gagasan kami dengan tangan yang terbuka,’ kata Sampah. ‘Aku juga turut
senang karena ternyata hasil kerja kita selama 5 tahun belakangan ini tidak
sia- sia.
Dua minggu berlalu ketika tiba- tiba sekelompok penduduk desa datang ke
rumah Tong dan Sampah. Mereka membawa tempat penampungan sampah mereka. ‘Apa-
apaan ini?’ Tanya Tong bingung. ‘Barang ini tidak berguna sama sekali tidak
berguna!’ kata penduduk desa marah, merekapun kemudian membuang tempat sampah
mereka lalu membakarnya. ’Kenapa kalian melakukan ini? Tak tahukah kalian bahwa
kami menghabiskan 5 tahun penuh untuk belajar membuat ini!’ Kata Sampah dengan
nada frustasi. ‘Jaring- jaring dalam tempat sampah ini terlalu besar lubangnya,
sehingga sampah- sampah kecil tidak dapat ditampung!’ Jawab penduduk
desa.’Tetapi ini adalah jaring- jaring terkecil yang bisa dibuat.’ Bantah Tong.
‘Kalau begitu kami tidak mau memakai tempat sampah rongsokan ini!’ Jawab para
penduduk desa dengan marah. Seketika itu juga hancurlah impian Tong dan Sampah,
semua yang mereka lakukan ternyata sia- sia.
Satu minggu kemudian semua penduduk desa Kotor membuang tempat sampah mereka
karena mengalami peristiwa yang sama dengan kelompok penduduk desa yang
membakar tempat sampah mereka. Tong dan Sampah pun merana karena merasa bahwa
mereka tidak dapat mengkontribusikan apa- apa kepada desa mereka.
Berminggu- minggu Tong dan Sampah mengasingkan diri, mereka tidak mau
menemui siapapun. Penduduk desa akhirna merasa bersalah, merekapun pergi
bersama-sama ke rumah Tong dan Sampah, betapa terkejutnya mereka ketika
menemukan bahwa mereka berdua ternyata jatuh sakit. Karena terlalu sedi Tong
dan Sampah sampai tidak makan, mereka merasa begitu sedih karena dihinggapi
rasa bahwa mereka telah mengecewakan penduduk desa Kotor. Dengan cemas mereka
mebawa Tong dan Sampah ke tabib Lin Yu yang terkenal.
Berminggu- minggu penduduk desa Kotor bergantian untuk menunggui Tong dan
Sampah. Tiap hari mereka membawakan selimut, handuk, bunga, dan berbagai macam
barang lagi. Akhirnya Tong dan Sampah pun siuman. ‘Syukurlah!’ kata pa kepala
desa’ kami semua merasa kasihan terhadap kalian. ‘Kalian tidak perlu merasa
kasihan terhadap kami,’ kata Tong. Ternyata setelah Tong dan Sampah siuman
penduduk desa tetap dengan setia menjenguk Tong dan Sampah.
Setelah beberapa hari mereka berdua diperbolehkan untuk pulang. Tetapi sebelum
itu tabib Lin Yu menumbuk obat yang tetap diharuskan untuk diminum oleh Tong
dan Sampah. ‘Aha!’ kata Sampah ‘Aku dapat ide, lihat itu serbuk obat tetap
didalam mangkok. Kita dapat membuat tempat sampah berbentuk mangkok raksasa.’
‘O ide cemerlang!’ kata Tong sambil berjingkat- jingkat.’ Hei turun, duduklah
kalian belum sembuh total!’ kata Tabib Lin Yu’ Kalian berdua duduk!’ Sedikit
malu Tong dan Sampah kembali duduk. ‘Belum juga semuh, udah nari- nari. Boro-
boro sembuh duduk diam saja tidak bias!’ kata tabib Lin Yu memaki- maki mereka
berdua. Ketika tabib Lin Yu telah selesai menumbuk obat dan memberikanya kepada
Tong dan Sampah mereka pun segera pergi, tidak lupa untuk berterima kasih
kepada tabib Lin Yu.
Tong dan Sampah ternyata segera pulang dan mengambil gergaji lalu berangkat
menuju hutan. Ternyata mereka berdua hendak memotong kayu. Seorang tukan kayu
dari desa melihat mereka dan merasa iba.’ Kalian tidak usah memotong kayu, biar
saya saja . Kalian pulang saja dan beristirahat.’ Kat sang tukang kayu. ‘Oh
terima kasih,’ kata Sampah kepada sang tukan kayu .Mereka lalu pulang dengan
hati yang senang.
Keesokan harinya sang tukang kayu datang ke rumah Tong dan Sampah membawa potongan-
potongan kayu. Tetapi kemudian tukang kayu itu pun berkata’ Saya tidak akan
member potongan- potongan kayu ini jika Anda belum berjanji kepada say bahwa,
sebelum And sembuh total anda tidak akan memegang kayu ini.’ Terpaksa Tong dan
Sampah harus bersumpah kepada sang tukang kayu bahwa mere tidak akan
mempergunakan kayu tersebut sebelum mereka telah sembuh dari penyakit yang kini
mereka derita. Sialnya, sang tukang kayu bahkan berjanji bahwa dia akan
menjenguk mereka. Dengan kesal Tong dan Sampah pun mendengus, mereka terpaksa
harus mengurungkan niat mereka untuk memulai memahat tempat penampungan sampah
dari kayu pertama di dunia.
Selama beberapa hari kedepan sang tukang kayu dengan setia menunggui mereka
berdua, dan setiap heri Tong dan Sampah mendengus kesal karena satu hari yang
seharusnya dipakai untuk membuat tempat sampah terbuang sia- sia. Setelah
beberapa lama mereka pun sembuh, sehingga mereka dapat memulai pekerjaan mereka
yang sudah lama tertunda.
Dengan senang Tong dan Sampah mengemasi pakaian mereka, ternyata mereka
hendak berpergian lagi untuk mempelajari cara memahat tempat penampungan sampah
tersebut. Mereka pergi ke berbagai kota, bahkan Negara- Negara lain.’ Oh
senangnya hatiku, Sampah,’ kata Tong. ‘Akupun ikut senang, karena impian kita
berdua untuk dapat mempersembahkan sesuatu kepada desa Kotor akan terwujud.’
Kata Sampahkegirangan.
Mereka naik kapal menuju ke berbagai Negara untuk menemui berbagai tukang
pemahat kayu yang sangat terkenal. Mereka pun ,elalui masa yang tidak terasa
asing bagi mereka, ya mereka melalui masa percobaan.
Masa dimana mereka harus berusaha dengan keras untuk mencapai keinginan
mereka, dan juga masa dimana mereka dapat gagal dengan mudah. Bulir- bulir
keringat berjatuhan dari dahi Sampah, ia merasa lelah, capek dan kepanasan.
Demikian juga Tong, tetapi mereka telah bertekad untuk tidak menyerah sampai
mereka telah berhasil.
Akhirnya mereka berhasil membuat tempat penampungan sampah berupa mangkuk
kayu besar . ‘Nah, akhirnya selesai,’ kata Sampah sambil mengelap keringat dari
dahinya. Kembali mereka menaiki kapal pulang kembali ke desa Kotor. Ketika
mereka sampai di desa Kotor mereka segera menuju rumah mereka untuk
beristirahat.
Keesokan harinya mereka bersiap- siap untuk mempresentasikan tempat
penampungan sampah terbaru mereka, terngiang kembali memori ketika penduduk
desa membakar tempat penampungan sampah jaring- jaring mereka, tetapi dengan
cepat mereka dapat menghilangkan pikiran negative itu. ‘Kali ini pasti
berhasil,’ kata Tong dengan percaya diri.
Meraka lalu mempresentasikan tempat sampah kayu tersebut dan membagi-
bagikanya kepada para penduduk desa.’ Semuanya berjalan dengan lancar,’ kata
Sampah. ‘Tak ada masalah,’ katanya lagi.
Beberapa minggu kemudian mereka sudah dapat melihat perubahanya, tak ada
lagi sungai berwarna coklat dan tidak ada lagi bau tak sedap yang tercium dari
desa Kotor, sampah nan dekil pun tidak lagi menghiasi jalanan di sea Kotor .
Beberapa minggu lagi Tong dan Sampah mulai mendengar keluhan bahwa debu sering
tertiup angin keluar dari tempat sampah karena tempat penampungan sampah tidak
memiliki penutup. Tong dan Sampah lagi- lagi pergi ke hutan untuk memotong kayu
dan dengan teknik yang telah mereka pelajari dalam perjalanan mereka kembali
bekerja, memahat tutup untuk penampungan sampah mereka. Satu bulan, dua bulan,
dan seterusnya berlalu akhirnya setelah satu tahun mereka telah membuat tutup
tempat sampah yang bagus. Lagi- lagi mereka membagikanya kepada penduduk desa
Kotor.
Berminggu- minggu berlalu tak ada masalah. Berbulan- bulan berlalu masih tak
ada masalah. Akhirnya para penduduk desa datang ke rumah Tong dan Sampah, kali
ini membawa kabar baik. ‘ Kami telah menyimpulkan bahwa tempat sampah buatan
kalian telah memenuhi standar kami, oleh karena itu kami ingin berterima
kasih,’ kata pak kepala desa. ‘Oh kami sungguh senang,’ kata Tong. Tak ada lagi
yang dapat dikatakan Tong maupun Sampah, mereka begitu bahagia.
Akhirnya Tong dan Sampah dapat mempersembahkan sesuatu kepada desa mereka.
Setelah tempat penampungan sampah sukses dibuat oleh Tong dan Sampah, banyak
pujian diberikan kepada desa Kotor, baik itu atas kebersihan desa itu atau
sungai desa itu yang biru jernih dan jarang banjir. Oleh karena itu, untuk
menghormati hasil jerih payah mereka berdua, penduduk desa Kotor menamai tempat
penampungan sampah itu dengan nama Tong Sampah.” Kata Ayah menyudahi ceritanya.
‘Oh aku mengerti sekarang ayah, kita tidak boleh membuang sampah di kali
agar kali itu tidak sering banjir.’ Kataku mantap. ‘Betul itu anakku,’ kata
ayah dengan nada bicara yang tenang. ‘Aku akan selalu membuang sampah di Tong
Sampah.’ Kataku bahagia. ‘Waktunya tidur saying.’ Kata mama dari dapur. Akupun
berlari ke kamarku siap untuk pergi tidur dan bangun keesokan harinya menyambut
bumi yang lebih hijau.
Semoga kalian menyukai karya tulisan saya, maaf jika banyak kesalahan baik
secara kata bahasa maupun moralnya, tolong tinggalkan komentar- komentar
tentang cerita ini agar saya dapat menulis cerita- cerita yang lebih
berkualitas.