Wednesday, 12 December 2012

TWEEKLY # 13 " Perjalanan Ke Afrika" - incomplete-

PERJALANAN KE AFRIKA


Papa memanggilku ke ruang tamu " Duduk Lily" kata papa. "Papa tahu kamu senang berpetualang, jadi setelah lama berdiskusi dengan mama, papa dan mama setuju untuk mengajakmu berlibur ke Afrika! Bagaimana seru kan?" "Yes!" kataku sambil mengacungkan tinju di udara, "kita akan berangkat 1 september mendatang," kata papa. "Tapi papa, bagaimana dengan sekolah?" tanyaku bingung. "Papa akan menyewa Ibu Tita untuk menjadi gurumu di Afrika," " dia guru favoritmu bukan?" kata papa sambil tersenyum. Aku pun mengangguk, lalu merangkul papa " terima kasih, Papa" bisikku.

Tak terasa 1 September datang dengan cepat. Bu tita telah siap, aku telah siap dan mama, papa pun telah siap. Rencananya kita akan naik kapal Phinisi bernama 'Mutiara Laut' menuju ke India, setelah itu kita akan naik pesawat menuju ke Saudi Arabia, lalu dari sana kita akan naik pesawat lagi ke Afrika Selatan, di Afrika kita akan menetap selama 30 hari lalu kembali ke Bali menggunakan rute yang sama.

Setelah memeriksa ulang bahwa semua supply makan dan barang- barang lainya telah berada di dalam mobil, kami pun berangkat menuju Benoa. Ketika kami sampai di Benoa, kami pun terpesona karena di hadapan kami sebuah kapal Phinisi sedang mengapung. Kapal itu terlihat anggun sekali, bercat outih bersih. Karena penasaran, saya mengetuk lambung kapal itu, ternyata lambung kapal itu sangat kuat. Saya pun sangat yakin bahwa kapal itu pasti terbuat dari kayu dengan kualitas yang sangat baik. Tetapi yang paling membuat saya terpesona adalah pahatan putri duyung yang diletakkan di bagian depan kapal tersebut.

Putri duyung itu terlihat begitu nyata, dengan mata berwarna hijau cerah. Menatap ke lautan yang luas. Rambutnya berwarna coklat- kehitaman berhiaskan jepit kerang berwarna krem, yang tergerai di bahunya. Ia mempunyai sebuah sirip berwarna hijau muda. Karena sirip sang putri duyung dicat dengan begitu sempurna, sirip itu akan memantulkan semua cahaya yang menerpanya. Sungguh sebuah maha karya, saya pikir yang membuat hiasan ini pasti seorang seniman yang benar- benar memiliki talenta yang besar.

Setelah puas mengagumi sang putri duyung saya pun menaiki kapal. Di dalam kapal terdapat 11 awak kapal, yang dengan senyum dan raut muka yang ramah memperkenalkan diri kepada saya. Yang pertama memperkenalkan diri adalah seorang lelaki bernama Adi, dia juru masaknya. Ia sempat belajar ke Perancis sebagai sorang tukang masak.

TWEEKLY # 12 " Camping with Friends"

CAMPING WITH FRIENDS


Louise,Sally ,Linda and I were camping. We had to make an indoor fire, because Linda had agoraphobia. She couldn't stand the thought of leaving any building, thankfully her agoraphobia is sort of mild, but only go knows how she managed to get to this camp. The camping thing was sort of "umm...bad" and yes it was because of Linda's agoraphobia, but how can I blame it on her , she also wanted to have fun. The fire slowly got dimmer&dimmer, finally the fire went off completely, suddenly I felt myself falling& falling, all around me, it was dark, pitch black, then I felt my self being stretched, what is this stretching me? I felt like I was falling for so long could it have been a day, a week, a month, a year maybe 10 decades. Suddenly I saw a faint light, it was growing stronger to the point where it blinded me all of a sudden I was out of the "tunnel" I was floating, where am I? I think I'm in space, yes that's where I am. In the distance I saw a red planet, it might be Mars, let me get closer to it. 1 step,2steps "wuush" an asteroid past me by it was humongous. 3steps,4steps and so on until I reached Mars, I bounced happily on the surface, when I encountered a martian it was red and it was covered in green slime. In an instant it started to follow me, it took me a while to realize there was not only 1 but thousands of martians, I ran& ran& ran. Suddenly everything went blurry and then I felt my body being shook. "Wake up Mellissa" I heard Linda's voice calling me. I woke up to see all my friends around me "had a good sleep huh?" Sally asked me. Turns out it was just a dream.

TWEEKLY # 11 " King Tutankhamen's Finest Tobacco"

KING TUTANKHAMEN'S FINEST TOBACCO


Louise touched the box in Eric’s pocket and smiled. Suddenly she danced in laughter and skipped of home. Eric was left there wondering, what in the world!? He reached again down his pocket then held the box. He put it down again and decided to study the box much more carefully (Just in case you never know what you’re going to find in an ancient box.) Eric ran to his house as fast as he could & couldn’t stop running until he reached his room. When he finally reached his room he panted as a sign of exhaustion. Tiredly, he grabbed a metal ruler & his magnifying glass. He took out the box from his pocket and carefully inspected it. As he searched near the lock he found a strange mark & a writing which said King Tutankhamen’s Finest Tobacco. “Huh??” Eric questioned himself. He thought why would Louise have smiled to the box. Surely he knew that tobacco was known all over the world as the best and most expensive tobacco. Only royal & rich people could buy this tobacco. People who, Eric knew could afford this tobacco are Louise’s Grandfather. But now Louise’s Grandfather is deceased. “Could it have been?” Eric wondered, he then decided to ask Louise about it the very next day. Night past quickly, and the day went slowly . As soon as he saw Louise, Eric immediately ask her this question “Why did you smile to a box of Tobacco?” he asked as planned, Louise then replied that seeing the box of tobacco had made her remember of her beloved grandfather which used to tell her fabled on his rocking chair, while smoking the tobacco labeled “ King Tutankhamen’s Finest Tobacco. Then Louise excused herself as the old, sweet memory was replayed. Now for Eric it had become obvious Louise couldn’t help to smile at the box of tobacco, because it had reminded her of her grandfather. This experience had given Eric a picture that he had to respect his grandfather & grandmother before it’s too late. And so he did … Until Now.

TWEEKLY # 10 " Dongeng Ayah"

DONGENG AYAH


“Pluk” kulihat orang itu membuang sampah di kali. “Papa,” kataku. “Mengapa kita tidak boleh membuang sampah di kali?” “Anakku akan kuceritakan sesuatu padamu .” “Dahulu kala,” ayah memulai “di sebuah desa bernama desa Kotor, hiduplah Tong dan Sampah bersaudara.” “Di desa itu pula terdapat sungai Sobek yang indah… dulunya. Tetapi sungai itu sering banjir,” “Nah, Tong dan Sampah ingin mengetahui mengapa, mereka lalu mendirikan pos jaga di delta sungai. Tiap malam Tong dengan setia memobservasi sungai itu, dan tiap siang hari Sampah menunggu dengan setia. Akhirnya setelah 2 tahun memobservasi mereka dapat menyimpulkan bahwa, sampah yang dibuang oleh penduduk desa Kotor telah memblokir arus sungai dan membuat semacam bendungan. Setelah beberapa waktu bendungan itu pun tidak sanggup lagi menampung air itu dan akhirnya keluar dari bendungan sampah tersebut, alhasil air itu keluar dan menyebabkan banjir dan akhirnya longsor.





Informasi ini segera dilaporkan oleh Tong dan Sampah kepada penduduk desa Kotor. Di luar dugaan ternyata penduduk desa kotor mau menerima laporan dari bersaudara Tong dan Sampah. Setelah 2 hari saja bersaudara Tong dan Sampah mulai melihat perubahan yang sangat signifikan, yaitu bahwa penduduk desa Kotor tidak lagi membuang sampah di sungai Sobek melainkan di belakang rumah mereka. ‘Nah begitulah seharusnya’ kata Tong kepada Sampah dengan bangga.





Tetapi ternyata kebahagiaan bersaudara Tong dan Sampah tidak bertahan lama. Setelah beberapa minggu penduduk desa Kotor mulai mengeluhkan bahwa sampah yang sekarang mereka kumpulkan di belakang rumah mereka mulai mngeluarkan bau yang kurang sedap. Kembali para penduduk desa Kotor membuang sampah di sungai.





Bersaudara Tong dan Sampah pun menjadi sedih, mereka mencoba menghibur diri mereka dengan menonton pertandingan sepak bola. Kebetulan tim favorit mereka yang bermain yaitu Tim Rajawali. Setelah lima menit Tim Rajawali mencetak gol. Tiba- tiba ‘Aha!’ `kata Tong ‘Aku punya ide.’ Ternyata ide Tong adalah untuk membuat tong sampah dari jarring- jarring. Ia mendapat ilham karena ketika Tim Rajawali mecetak gol, jarring- jarring dalam gawang dapat menahan bola agar bola itu tidak pergi melayang kepada para penonton. ‘Ide bagus itu , Tong!’ kata Sampah.





Mereka lalu pergi ke pasar untuk membeli tali sepanjang 10m.’ Untuk apa kau membeli tali sebanyak itu Tong?’tanya para penduduk desa.’ Untuk membuat tempat penampungan sampah,’ kata Tong dengan mata berbinar- binary karena senang telah menemukan gagasan. ‘Hahaha kau sedang bergurau ya?’ Tanya para penduduk desa,





Tetapi Tong dan Sampah tidak mendengar mereka karena mereka telah berlari menuju rumah mereka untuk memulai membuat tempat penampungan sampah pertama di dunia. Bertahun- tahun mereka merantau mencoba untuk belajar bagaimana caranya untuk mengikat ismpul yang benar agar dapat mengubah wujud tali menjadi jaring- jaring. Berkali- kali mereka mencoba dan berkali- kali juga mereka gagal, tetapi mereka tidak pernah lelah ataupun bosan, karena mereka rela melakukan semua ini demi desa mereka yang tercinta. Akhirnya mereka berhasil membuat jarring- jarring yang kuat dan bagus kualitasnya. Namun mereka tetap belum tahu bagaimana caranya agar dapat membuat kerangka kayu yang bagus. Lagi- lagi mereka kembali, merantau, pergi ke tempat seluruh pekerja layu terbaik berada.





Mereka kembali mencoba, belajar dan gagal. Tetapi mereka tidak pernah patah semangat karena mereka telah bersikukuh bahwa mereka akan mengabdi kepada desa tempat mereka dilahirkan. Mereka telah berbulat tekad untuk mengubah nama desa Kotor menjadi desa Bersih.





Akhirnya mereka berhasil, dengan bangga mereka bekerja keras untuk menggabungkan kerangka kayu mereka dengan jaring- jaring. Setelah tempat penampungan sampah itu dibuat mereka dengan bangga mempresentasikan hasil jerih payah mereka selama bertahun- tahun. Penduduk desa Kotor melihat dengan kagum, lupa bahwa mereka dulu mengolok- olok gagasan tersebut.





‘Wow apa itu?’ Tanya para penduduk desa dengan kagum. ‘Oh ini, ini adalah tempat penampungan sampah, setiap keluarga akan mendapatkan satu’ jawab Sampah dengan bersemangat. ‘Kami sudah memberikan semua tempat ini kepada pak kepala desa, silahkan diambil ya!’ kata Tong menjelaskan lebih lanjut. ‘Oh begitu! Yuk kita ke rumah pak kepala desa!’ Seru para penduduk desa. Alangkah senagnya Tong dan Sampah hasil kerja mereka ternyata tidak sia- sia.





Satu minggu berlalu dan tampaknya semua penduduk bahagia. Mereka bahkan sepakat untuk bergotong- royong guna membersihkan sampah dari sungai. Terlihat dengan jelas bahwa sungai Sobek tidak lagi berwarna coklah melainkan biru jernoh. ‘Aku bangga kepada desa ini Tong, karena mereka tekami ternyata mau menerima gagasan kami dengan tangan yang terbuka,’ kata Sampah. ‘Aku juga turut senang karena ternyata hasil kerja kita selama 5 tahun belakangan ini tidak sia- sia.





Dua minggu berlalu ketika tiba- tiba sekelompok penduduk desa datang ke rumah Tong dan Sampah. Mereka membawa tempat penampungan sampah mereka. ‘Apa- apaan ini?’ Tanya Tong bingung. ‘Barang ini tidak berguna sama sekali tidak berguna!’ kata penduduk desa marah, merekapun kemudian membuang tempat sampah mereka lalu membakarnya. ’Kenapa kalian melakukan ini? Tak tahukah kalian bahwa kami menghabiskan 5 tahun penuh untuk belajar membuat ini!’ Kata Sampah dengan nada frustasi. ‘Jaring- jaring dalam tempat sampah ini terlalu besar lubangnya, sehingga sampah- sampah kecil tidak dapat ditampung!’ Jawab penduduk desa.’Tetapi ini adalah jaring- jaring terkecil yang bisa dibuat.’ Bantah Tong. ‘Kalau begitu kami tidak mau memakai tempat sampah rongsokan ini!’ Jawab para penduduk desa dengan marah. Seketika itu juga hancurlah impian Tong dan Sampah, semua yang mereka lakukan ternyata sia- sia.





Satu minggu kemudian semua penduduk desa Kotor membuang tempat sampah mereka karena mengalami peristiwa yang sama dengan kelompok penduduk desa yang membakar tempat sampah mereka. Tong dan Sampah pun merana karena merasa bahwa mereka tidak dapat mengkontribusikan apa- apa kepada desa mereka.





Berminggu- minggu Tong dan Sampah mengasingkan diri, mereka tidak mau menemui siapapun. Penduduk desa akhirna merasa bersalah, merekapun pergi bersama-sama ke rumah Tong dan Sampah, betapa terkejutnya mereka ketika menemukan bahwa mereka berdua ternyata jatuh sakit. Karena terlalu sedi Tong dan Sampah sampai tidak makan, mereka merasa begitu sedih karena dihinggapi rasa bahwa mereka telah mengecewakan penduduk desa Kotor. Dengan cemas mereka mebawa Tong dan Sampah ke tabib Lin Yu yang terkenal.





Berminggu- minggu penduduk desa Kotor bergantian untuk menunggui Tong dan Sampah. Tiap hari mereka membawakan selimut, handuk, bunga, dan berbagai macam barang lagi. Akhirnya Tong dan Sampah pun siuman. ‘Syukurlah!’ kata pa kepala desa’ kami semua merasa kasihan terhadap kalian. ‘Kalian tidak perlu merasa kasihan terhadap kami,’ kata Tong. Ternyata setelah Tong dan Sampah siuman penduduk desa tetap dengan setia menjenguk Tong dan Sampah.





Setelah beberapa hari mereka berdua diperbolehkan untuk pulang. Tetapi sebelum itu tabib Lin Yu menumbuk obat yang tetap diharuskan untuk diminum oleh Tong dan Sampah. ‘Aha!’ kata Sampah ‘Aku dapat ide, lihat itu serbuk obat tetap didalam mangkok. Kita dapat membuat tempat sampah berbentuk mangkok raksasa.’ ‘O ide cemerlang!’ kata Tong sambil berjingkat- jingkat.’ Hei turun, duduklah kalian belum sembuh total!’ kata Tabib Lin Yu’ Kalian berdua duduk!’ Sedikit malu Tong dan Sampah kembali duduk. ‘Belum juga semuh, udah nari- nari. Boro- boro sembuh duduk diam saja tidak bias!’ kata tabib Lin Yu memaki- maki mereka berdua. Ketika tabib Lin Yu telah selesai menumbuk obat dan memberikanya kepada Tong dan Sampah mereka pun segera pergi, tidak lupa untuk berterima kasih kepada tabib Lin Yu.





Tong dan Sampah ternyata segera pulang dan mengambil gergaji lalu berangkat menuju hutan. Ternyata mereka berdua hendak memotong kayu. Seorang tukan kayu dari desa melihat mereka dan merasa iba.’ Kalian tidak usah memotong kayu, biar saya saja . Kalian pulang saja dan beristirahat.’ Kat sang tukang kayu. ‘Oh terima kasih,’ kata Sampah kepada sang tukan kayu .Mereka lalu pulang dengan hati yang senang.





Keesokan harinya sang tukang kayu datang ke rumah Tong dan Sampah membawa potongan- potongan kayu. Tetapi kemudian tukang kayu itu pun berkata’ Saya tidak akan member potongan- potongan kayu ini jika Anda belum berjanji kepada say bahwa, sebelum And sembuh total anda tidak akan memegang kayu ini.’ Terpaksa Tong dan Sampah harus bersumpah kepada sang tukang kayu bahwa mere tidak akan mempergunakan kayu tersebut sebelum mereka telah sembuh dari penyakit yang kini mereka derita. Sialnya, sang tukang kayu bahkan berjanji bahwa dia akan menjenguk mereka. Dengan kesal Tong dan Sampah pun mendengus, mereka terpaksa harus mengurungkan niat mereka untuk memulai memahat tempat penampungan sampah dari kayu pertama di dunia.



Selama beberapa hari kedepan sang tukang kayu dengan setia menunggui mereka berdua, dan setiap heri Tong dan Sampah mendengus kesal karena satu hari yang seharusnya dipakai untuk membuat tempat sampah terbuang sia- sia. Setelah beberapa lama mereka pun sembuh, sehingga mereka dapat memulai pekerjaan mereka yang sudah lama tertunda.





Dengan senang Tong dan Sampah mengemasi pakaian mereka, ternyata mereka hendak berpergian lagi untuk mempelajari cara memahat tempat penampungan sampah tersebut. Mereka pergi ke berbagai kota, bahkan Negara- Negara lain.’ Oh senangnya hatiku, Sampah,’ kata Tong. ‘Akupun ikut senang, karena impian kita berdua untuk dapat mempersembahkan sesuatu kepada desa Kotor akan terwujud.’ Kata Sampahkegirangan.





Mereka naik kapal menuju ke berbagai Negara untuk menemui berbagai tukang pemahat kayu yang sangat terkenal. Mereka pun ,elalui masa yang tidak terasa asing bagi mereka, ya mereka melalui masa percobaan.





Masa dimana mereka harus berusaha dengan keras untuk mencapai keinginan mereka, dan juga masa dimana mereka dapat gagal dengan mudah. Bulir- bulir keringat berjatuhan dari dahi Sampah, ia merasa lelah, capek dan kepanasan. Demikian juga Tong, tetapi mereka telah bertekad untuk tidak menyerah sampai mereka telah berhasil.





Akhirnya mereka berhasil membuat tempat penampungan sampah berupa mangkuk kayu besar . ‘Nah, akhirnya selesai,’ kata Sampah sambil mengelap keringat dari dahinya. Kembali mereka menaiki kapal pulang kembali ke desa Kotor. Ketika mereka sampai di desa Kotor mereka segera menuju rumah mereka untuk beristirahat.





Keesokan harinya mereka bersiap- siap untuk mempresentasikan tempat penampungan sampah terbaru mereka, terngiang kembali memori ketika penduduk desa membakar tempat penampungan sampah jaring- jaring mereka, tetapi dengan cepat mereka dapat menghilangkan pikiran negative itu. ‘Kali ini pasti berhasil,’ kata Tong dengan percaya diri.





Meraka lalu mempresentasikan tempat sampah kayu tersebut dan membagi- bagikanya kepada para penduduk desa.’ Semuanya berjalan dengan lancar,’ kata Sampah. ‘Tak ada masalah,’ katanya lagi.





Beberapa minggu kemudian mereka sudah dapat melihat perubahanya, tak ada lagi sungai berwarna coklat dan tidak ada lagi bau tak sedap yang tercium dari desa Kotor, sampah nan dekil pun tidak lagi menghiasi jalanan di sea Kotor . Beberapa minggu lagi Tong dan Sampah mulai mendengar keluhan bahwa debu sering tertiup angin keluar dari tempat sampah karena tempat penampungan sampah tidak memiliki penutup. Tong dan Sampah lagi- lagi pergi ke hutan untuk memotong kayu dan dengan teknik yang telah mereka pelajari dalam perjalanan mereka kembali bekerja, memahat tutup untuk penampungan sampah mereka. Satu bulan, dua bulan, dan seterusnya berlalu akhirnya setelah satu tahun mereka telah membuat tutup tempat sampah yang bagus. Lagi- lagi mereka membagikanya kepada penduduk desa Kotor.



Berminggu- minggu berlalu tak ada masalah. Berbulan- bulan berlalu masih tak ada masalah. Akhirnya para penduduk desa datang ke rumah Tong dan Sampah, kali ini membawa kabar baik. ‘ Kami telah menyimpulkan bahwa tempat sampah buatan kalian telah memenuhi standar kami, oleh karena itu kami ingin berterima kasih,’ kata pak kepala desa. ‘Oh kami sungguh senang,’ kata Tong. Tak ada lagi yang dapat dikatakan Tong maupun Sampah, mereka begitu bahagia.





Akhirnya Tong dan Sampah dapat mempersembahkan sesuatu kepada desa mereka. Setelah tempat penampungan sampah sukses dibuat oleh Tong dan Sampah, banyak pujian diberikan kepada desa Kotor, baik itu atas kebersihan desa itu atau sungai desa itu yang biru jernih dan jarang banjir. Oleh karena itu, untuk menghormati hasil jerih payah mereka berdua, penduduk desa Kotor menamai tempat penampungan sampah itu dengan nama Tong Sampah.” Kata Ayah menyudahi ceritanya.





‘Oh aku mengerti sekarang ayah, kita tidak boleh membuang sampah di kali agar kali itu tidak sering banjir.’ Kataku mantap. ‘Betul itu anakku,’ kata ayah dengan nada bicara yang tenang. ‘Aku akan selalu membuang sampah di Tong Sampah.’ Kataku bahagia. ‘Waktunya tidur saying.’ Kata mama dari dapur. Akupun berlari ke kamarku siap untuk pergi tidur dan bangun keesokan harinya menyambut bumi yang lebih hijau.

Semoga kalian menyukai karya tulisan saya, maaf jika banyak kesalahan baik secara kata bahasa maupun moralnya, tolong tinggalkan komentar- komentar tentang cerita ini agar saya dapat menulis cerita- cerita yang lebih berkualitas.

TWEEKLY # 9 " Vini Vidi Vici"

VINI VIDI VICI


Lily sighed again. She looked back in despair. She knew that this day would come but not this soon. She cried in despair and held her mothers hand, she slowly squeezed it.
 ‘Mama,’ she said ‘Daddy will heal right?’
‘ Of course he will.’ Her mom said trying to seem convincing, but her look gave it away. Lily turned towards her dad who was now laying sick on the clean, white hospital bed. An IV needle was implanted on his arm while an oxygen mask covered his mouth and nose.
Her memories flashed back to the wine colored days she used to live in happiness with her family.
‘Come here Lily!’ her dad would cry out ‘you know daddy is not going to be with you forever, when daddy leaves I want you to follow your dreams, remember Vini, Vidi, Vici. I want you to conquer the world for me, Lily. Can I keep that as a promise? ‘ he said as he held out his pinky.
‘I promise,’ I said in eagerness, not knowing hat he would leave me so soon.
Her memory was blurred when she heard her big brother knocking on the door.
‘Come in,’ her mother said.
‘ How’s dad?’ he asked.
‘ He’s doing well, the doctor said he will make it.’ Her mother said.
Lily wanted to know what her mother said was true, but… the chances of her father surviving were very slim. Her father was diagnosed with a very peculiar heart disease, which immobilized his heart of pumping blood. End results would be, that sooner or later her father would die.
She knew that she shouldn’t be so pessimistic but she really couldn’t help it. The ideal thing to do in this situation would be to be cheerful and optimistic for her father, but how could she possibly be that way when the truth was so obvious.
Suddenly ‘tiiiit, tiiiiiit, tiiiiiit,’ the heartbeat monitor beeped.
‘Lily come here,’ her father’s weak voice soared through the air.
‘Yes daddy!’ she said in excitement as she leaped towards her father.
‘Lily, remember Vini, Vidi, Vici,’ her father said as he held out his pinky.
‘Pinky promise daddy!’ Lily said as she intertwined her pinky with her father’s. Then the heartbeat monitor went blank and the intertwined pinky loosened, her father was dead. Instantly her mother cried in horror, followed by her brother.
Fast-forward 20 years later and its time for Lily to choose her major in college. She was unexceptionally intelligent student and so she had gotten a scholarship in one f the famous college in Indonesia, UGM or more commonly known as Universitas Gadjah Mada. Her expectations were to be able to take Art as her major. She had told her mother about his wish and her mother had agreed on this decision and now it was time to ask her brother. Ever since her father died her brother had taken over everything, he was now the leader of the family.
She knocked on the door to her brother’s bedroom.
‘Come in,’ said a loud, clear and deep booming voice, one she could clearly identify as her brothers.
She slowly opened the door, ‘this is it,’ she said to herself ‘either now or never,’ she whispered to calm herself.
‘What?’ her brother said to her.
‘I was just wondering, ummmm, you know that soon I’m going to go to college, I was just going to tell you that I wanted to take Art as my major?’ she said.
‘No! Absolutely not! Being an artist is not a promising job besides you are way too smart to be doing Art as your job,’ her brother said.
‘But, but, but,’ she said in disbelief that her brother had rejected her idea.
‘I suggest you to take business instead.’ Her brother said as he walked out the door. At the moment Lily knew that the decision for her had been made, she was going to have to take business or nothing at all.
She slammed her bedroom door and started to pack up in fury. She banged her closet door open and threw her clothing everywhere.  She threw all her toiletries everywhere. Then pulled on her hair and cried. She was depressed, sad and hopeless. Little did she know that her mother was looking at her through her window in sorrow, ‘be patient, my child.’ She said.
After a few hours of endless seeming tantrums she finally dozes of to sleep, out of exhaustion not relaxation. She seemed so calm it was almost as if she never even when through an emotional roller coaster.
The next day she woke up and straight away went to the bathroom. Just as she had guessed her face was pale and ill looking, but she didn’t care. She went to the bathroom then took a shower. After that she headed for the dining table. Her brother and mother already was sitting and waiting for her there. She glared at her brother, in fury and disgust. ‘This will be the last day I’ll ever see him­­’ she said. Finally her pick up bus came and she said her good bye to her mom. She slept on the way to the college.
When she woke up she sighed in boredom instead of smiling in delight. The next few college filled years went by quickly and she actually managed to set the record for the fastest graduate at an astounding 8 months. Soon offers from various different companies came to her, all were good. But none interested her, none made her leap out of her seat, none made her tingle in joy. Her heart longed for art, suddenly she got an idea. Why not just pay for an art degree in college herself, she could take one of the job offers and use the money she earned to get the college degree in art. That was exactly what she did. So she went off to a college which was famous for its Art degree and got a job in that city.
She graduated with honour and got her master degree, this time she did not long for anything more. Success then followed and she became a well renowned artist. She then remembered about her father who taught her to follow her dreams. Then off she went on a train to her father’s hometown where he was buried. She had brought a bouquet of roses and now she placed them on top of her father’s graveyard. She kneeled down then said ‘I did it daddy, I conquered the world!’